OpenAI Siap Cetak Rekor, IPO Bisa Lampaui Saudi Aramco dengan Dana Rp 1.000 Triliun
Gentra Jabar, Jakarta – Penawaran umum perdana (IPO) tidak hanya menjadi momen perusahaan untuk go public, tetapi juga ajang unjuk kekuatan dalam menghimpun modal fantastis. Sepanjang sejarah pasar modal modern, sejumlah emiten berhasil mengumpulkan dana IPO yang nilainya mampu melampaui PDB puluhan negara.
Berdasarkan data historis, IPO terbesar didominasi sektor energi, keuangan, dan teknologi. Geografisnya pun bergeser ke Asia dan Timur Tengah, menantang dominasi tradisional bursa Amerika Serikat. Raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, masih memegang posisi puncak sebagai IPO terbesar dalam sejarah, yang dilakukan di bursa domestik Tadawul.
Daftar 10 perusahaan dengan IPO terbesar menunjukkan sektor yang paling dihargai investor:
- Teknologi dan Telekomunikasi: Alibaba, SoftBank, Meta (Facebook), NTT Docomo.
- Keuangan: Bank raksasa Tiongkok ICBC dan AgBank, raksasa asuransi AIA, serta sistem pembayaran Visa.
- Energi: Saudi Aramco menegaskan vitalitas sumber daya energi primer bagi peradaban modern.
Menariknya, tujuh dari sepuluh IPO terbesar berasal dari Asia dan Timur Tengah. Bursa-bursa seperti Shanghai, Hong Kong, Tokyo, dan Tadawul kini memiliki likuiditas dan kepercayaan investor untuk menyerap penawaran bernilai triliunan rupiah.
Sejarah waktu pelaksanaan IPO juga menyimpan makna. Misalnya, munculnya AgBank, AIA, dan General Motors pada 2010 menandai pemulihan pasar global pasca-Krisis Keuangan 2008. IPO terbaru, seperti Saudi Aramco (2019) dan SoftBank (2018), dipicu oleh agenda strategis nasional dan kebutuhan modal investasi teknologi.
Kini, perhatian dunia tertuju pada OpenAI, induk dari ChatGPT, yang tengah menyiapkan IPO dengan valuasi privat mencapai US$ 500 miliar. Jika IPO terealisasi, OpenAI berpotensi mengumpulkan dana minimal US$ 60 miliar atau sekitar Rp 997 triliun, menempatkannya sebagai IPO terbesar sepanjang sejarah, melewati Saudi Aramco.
CEO OpenAI, Sam Altman, menyebut IPO sebagai jalur paling memungkinkan karena perusahaan membutuhkan modal triliunan dolar untuk membangun kecerdasan buatan tingkat lanjut (AGI). Perusahaan diperkirakan bisa melantai di bursa paling cepat pada paruh kedua 2026 atau 2027. **Redaksi
