Gus Dur, Simbol Kearifan Lokal dan Ketegasan Nilai Kebangsaan

Gentra Jabar, Jakarta - Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, kembali menjadi sorotan publik setelah pemerintah resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya pada tahun 2025. Keputusan ini mempertegas posisi Gus Dur sebagai tokoh yang tidak hanya dihormati, tetapi juga diakui secara negara sebagai penjaga nilai kemanusiaan, pluralisme, dan kebangsaan.

Lahir pada 1940 dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, putra KH Wahid Hasyim Menteri Agama pertama RI ini tumbuh dengan fondasi keilmuan kuat, baik dari pesantren maupun universitas di Mesir dan Kanada. Kiprahnya kemudian membawa warna baru dalam dinamika sosial-politik Indonesia.

Ketika memimpin Indonesia pada 1999–2001, Gus Dur mengambil langkah tegas yang membuktikan keberpihakannya pada keberagaman dan hak asasi manusia. Ia mencabut pembatasan terhadap kebudayaan Tionghoa dan mengakui Konghucu sebagai agama resmi kebijakan berani yang memutus diskriminasi bertahun-tahun dan membuka ruang kesetaraan bagi semua warga negara.

Tidak hanya sebagai pemimpin negara, Gus Dur adalah pemikir tajam dan penulis produktif. Lewat karya-karyanya seperti Islamku, Islam Anda, Islam Kita dan Celoteh Gus Dur, ia menyampaikan gagasan-gagasan yang menempatkan kemanusiaan di atas sekat politik maupun agama. Pemikiran-pemikirannya menjadi rujukan moral bagi banyak kalangan lintas kelompok.

Kini, dengan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional, negara akhirnya menegaskan apa yang telah lama diyakini masyarakat: Gus Dur adalah Guru Bangsa, sosok yang keberaniannya membela minoritas, keteguhannya menjaga persatuan, dan konsistensinya menegakkan nilai kemanusiaan patut dihormati dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Redaksi)